Sabtu, 21 November 2009

Doushite Kimi wa suki ni natte Shimattandarou?

Mengapa aku jatuh cinta denganmu?
Tidak peduli berapa banyak waktu berlalu
Kupikir kau masih ada di sini

Tapi kau akhirnya memilih jalan yang berbeda

Mengapa aku tidak bisa mencapai dirimu?
Perasaanku menjadi lebih kuat
Kata-kata ini meluap, meskipun mengerti ...

... tidak akan pernah menghubungimu lagi

Sejak hari pertama aku bertemu denganmu,
Aku merasa seperti sudah mengenalmu
Kita melebur menjadi satu sama lain secara alami

Tidak peduli di mana kita pergi, kami selalu bersama-sama
Kita telah tumbuh bersama

Tapi kau akhirnya memilih jalan yang berbeda

Mengapa aku jatuh cinta denganmu?
Tidak peduli berapa banyak waktu berlalu
Kupikir kau masih ada di sini

Kita tidak bisa lagi kembali

Hari ini, yang memegang makna khusus
Hari ini, kau berdiri di sana dengan ekspresi bahagia
Kau tampak begitu cantik, berdoa kepada Tuhan

Berdiri di samping seseorang yang bukan aku
Mengucapkan ikrar-ikrar suci itu
Dan menerima berkat-berkatNya
Bagaimana aku bisa melepaskan itu?

Jadi, mengapa aku jatuh cinta denganmu?

Kupikir kau akan selalu berada di sisiku
Seperti bagaimana dulu

Tetapi, meskipun kau tak lagi di sampingku
Aku akan berdoa bahwa kau akan bahagia untuk selamanya

Tidak peduli seberapa kesepian diriku ini ...
(Bagaimana dengan rasa yang akan membuatku kesepian ...)

Mengapa aku akhirnya jatuh untukmu?
Tidak peduli berapa banyak waktu telah berlalu
Aku masih berpikir kau benar di sini

Wajar bagiku untuk berada di tempatmu
Kami berdua tumbuh bersama-sama

Tapi kau sudah memilih jalan yang berbeda

Sekarang kita tidak dapat kembali

Arti khusus diselenggarakan oleh hari ini
Hari ini kau berdiri dengan ekspresi yang bahagia

bagaimana mungkin aku membiarkanmu pergi?

Tapi tetap saja, bahkan jika aku tidak berada di dekatmu lagi
Aku berdoa untukmu…
…akan bahagia untuk selamanya

Tidak peduli berapa banyak rasa yang akan membuatku kesepian

tak peduli kesepian yang melanda hatiku

by : Tohoshinki

Sabtu, 14 November 2009

Ingin hidup di dunia yang seperti ini...


dengar gemercik air itu...
merdu...


walau dingin
pasti ada kehangatan di setiap langkah kita...


cerah...
menyinari setiap kegiatan kita


dunia yang nyaman, tentram, indah...
angin berhembus halus, mengenai wajah kita... sungguh nikmat



suatu saat
entah kapan, pasti, bisa kesana^^

Dan Hujan pun Berhenti...



Judul Buku : Dan Hujan Pun Berhenti...
Penulis : Farida Susanty
Penerbit : Grasindo
Cetakan : I, 2007
Tebal : 324 halaman


"Hei! Kenapa menggantungkan itu?"
"Biar hujan nggak turun."
"Memangnya kenapa kalau turun?"
"Aku akan keburu mati sebelum aku bunuh diri."
"Kamu mau bunuh diri?"
"Ya, asal nggak hujan."
"..."

Itulah line pembuka yang mengisi halaman pertama buku ini. Line penting yang berpengaruh besar terhadap takdir tokoh-tokohnya, yang tentu saja berkaitan dengan hujan.Adalah Leo, seorang anak SMA yang baru saja dipukuli, yang tiba-tiba saja melihat seorang gadis yang sedang menggantungkan teru-teru bozu--penangkal hujan--di pohon sebelahnya. Ia, saking herannya, tanpa sadar bertanya pada gadis itu tentang apa yang sedang gadis itu lakukan. Dan gadis itu berkata ia melakukannya untuk persiapan bunuh diri!

Sebenarnya Leo ingin melupakannya; dia terlalu skeptis untuk mengurusi orang lain. Sejak ia kabur dari rumah setelah kepergian teman pertamanya, Leo sudah tidak peduli lagi pada apapun. Ia sudah permanen memakai topeng tersenyum di wajahnya, menghasilkan imej maya itu--dirinya yang cuek, enerjik, sinis, liar, dan brutal. Sesuatu yang ia pakai di permukaan agar tampak bahagia selalu, menutupi keantisosialannya yang tersembunyi dalam dirinya. Kebencian dan ketidakpercayaannya pada dunia.

Tapi Leo ternyata benar-benar tidak bisa mengabaikannya. Ia bertemu dengan gadis itu lagi di kamar mandi sekolahnya, saat gadis itu sedang mencoba bunuh diri! Leo awalnya enggan untuk menyelamatkan gadis itu.

Save this blood.
Let this be your forgiveness
SPZ

"Lo... jadi bunuh diri ya?"
Pertanyaan konyol yang lansung Leo sesali keberadaannya. Segala komponen bunuh diri sudah ada di sini. Darah, message, luka, air...
...
"Ya" Gadis itu menjawab dengan suara lemah.
"Lo megang kertas gue?"
...
"Ya, gue udah baca" ... "Forgiveness? Apa elo bikin salah?"
...
"Ya, Kesalahan kecil..." ... "darah penebus dosa"
...
"Kenapa lo nggak takut mati" ... "Kenapa kesalahan remeh itu bikin lo mati?"
...
"Bukan kesalahan remeh" ... "Ini bukan main-main..."
...
"Kalo gitu kesalahan fatal?"
"..."
"Oke, oke. Jadi lo mau mati gini aja atau gue selametin?" ujar Leo cepat-cepat, ketika tidak terdengar jawaban atas pertanyaan pertamanya. Gadis itu langsung mengangkat wajah kaget, tidak menyangka Leo orang "setidaknormal" itu. Jadi membiarkan dia mati pun Leo siap?

Tapi setelah percakapan singkat sebelum kematian gadis itu, ternyata sesuatu berjalan di luar rencananya: gadis itu ternyata mirip dengan teman pertamanya...


Disadarinya atau tidak, di sanalah semuanya berubah. Di sanalah titik balik segala masalah Leo. Yang akan mengorek kembali masa lalunya, maupun masa lalu gadis itu. Yang akan mengusik sisi-sisi mereka yang terdalam. Yang membenturkan secara brutal apa-apa yang selama ini mereka percayai. Menghasilkan hubungan "benci-terikat" yang kompleks, yang tidak bisa Leo hindari. Segala rasa sakit, rasa hangat, kasih sayang, kebencian, dan pengkhianatan, mewarnai penuh hubungan rapuh mereka. Baik antara Leo dengan gadis itu, Spiza, maupun dengan orang-orang di sekitar mereka. Yang mengubah jalan hidup mereka selamanya.

Dan di atas segalanya, hanya satu yang bisa Leo pegang,yaitu dirinya dan Spiza, adalah orang-orang yang sama-sama tidak bahagia, dan sama-sama membenci hujan.Dan hanya itulah yang bisa mereka mengerti bersama, tanpa bisa dibagi pada dunia.


Kesan-kesan setelah membaca novel ini:
Gue : Gilaaaaaaa, krenz abis. Suka banget sama karakternya Leo. Selama baca novel ini gue ga bisa berenti ngebaca ni novel sebelum selesai. Banyak kejadian yang ga di duga-duga. Farida Susanty keren bisa nyiptain karakter cowo kaya Leo^^.

Pokoknya harus baca yaaaaaaaaa...

Cinta Tak Pernah Lelah Menanti




Judul : Ai: Cinta Tak Pernah Lelah Menanti
Penulis : Winna Efendi

Harga : Rp41.500
Jumlah halaman : 288 hlm

ISBN : 979-780-307-4
Ukuran : 13 x 19 cm Penerbit:
Gagas Media
Tahun: Februari 2009

Sinopsis

Cinta seperti sesuatu yang mengendap-endap di belakangmu.
Suatu saat tiba-tiba kau baru sadar, cinta menyergapmu tanpa peringatan


-Sei-

Aku mencintai Ai. Tidak tahu sejak kapan - mungkin sejak pertama kali dia menggenggam tanganku - aku tidak tahu mengapa, dan aku tidak tahu bagaimana. Aku hanya mencintainya, dengan caraku sendiri. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Tidak. Semuanya sudah terlambat jauh sebelum hari ini - mungkin sejak festival musim panas itu, atau mungkin sejak kedatangan Shin. Dia telah memilih, sadar maupun tidak, dan orang itu bukanlah aku.

-Ai-

Aku bersahabat dengan Sei sejak kami masih sangat kecil. Saat mulai tumbuh remaja, gadis-gadis mulai mengejarnya. Entah bagaimana, aku pun mulai jatuh cinta padanya, tetapi aku memilih untuk menyimpannya. Lalu, datang Shin ke dalam lingkaran persahabatan kami. Dia membuatku jatuh cinta dan merasa dicintai. Kami bahagia, tetapi suatu hari Shin pergi dan tak bisa kembali lagi.


Kesan-kesan setelah membaca novel ini:
Gue : Yang pertama kali gue inget setelah ngebaca ni novel adalah kalimat ini "Lebih sakit mana?, kehilangan orang yang kamu cintai selamanya tetapi kamu tahu sampai detik terakhirnya dia mencintai kamu atau tidak bisa dicintai orang yang kamu cintai selamanya karena suatu alasan, padahal setiap hari kamu bisa melihat orang itu". Wew...

Yang jelas nih novel ajiiib bgt. Nyesel dah kalo ga baca!!!
Winna efendi keren^^

Rabu, 11 November 2009

Orang aneh *akhirnya kita berjumpa kembali*

Okeh, *mulai agak terbengkalai, nih blog -__-* mulai lagi^^

I want tell you one story.
Hal yang menarik, hari itu tepat ulang tahun temen gue, Vania.
But, cerita ini bukan tentang dia. So. let's start.

Ultahnya Vania itu, cukup rame. Sampai akhirnya, mengharuskan kami pulang agak sore. Maybe, at 5 pm. Saat itu hanya 4 orang yang pulang naik angkot, yaitu Uti, Nda, Auwl, dan gue. Berhubung rumah Vania itu cukup *Uhm, AMAT SANGAT* jauh, jadi kami membutuhkan waktu yang lama untuk sampai rumah.

Dan parahnya lagi, saat kami naik angkot 45 *klo ga salah, lupa euiii^^*, yak ampun MUACEEETT BGT!!! Dan akhirnya kami berempat diturunkan semena-mena oleh si tukang angkot, dan itu mengharuskan kita ber-4 untuk berjalan kaki sampai kami menemukan angkot 04b, supaya bisa nyampe rumah. Dan itu JAUUUUUUUUUUUUHH bgt. Padahal di rumah vania baru ajjah makan-makan, eh udah laper lagi! Sumpah, cape euii, jalan kaki!!

Tapi, akhirnya kita sampai juga di tempat tujuan. Dan saat itu sudah mulai gelap, okeh langsung ajjah kita ber-4 naek angkot 04b. *Benar-benar sudah gelap*

Ga lama kita naek angkot ada sepasang suami istri menaiki angkot itu juga, tapi mereka ga lama naek angkotnya. Baru sebentar udah turun. Saat mereka mau bayar, eh uang mereka dua puluh ribuan sementara tarif merela cuma 1000. Karena supir angkotnya ga punya kembalian, akhirnya ia pun merelakan mereka berdua untuk tidak membayar tarif angkot tersebut. *Ohh, baik sekali*

But, belum selesai nih ceritanya, Ini nih bagian yang paling penting, Ga lama kemudian ada seorang Ibu yang naek ke angkot. Pertama-tama aku liat sih, aku prihatin. Soalnya dia jalannya susah *maksudnya, kaya punya masalah sama kakinya, entah deh kenapa*. Tapi, rasa prihatin aku menghilang semenjak mendengar si Ibu berceloteh

Si ibu, mulai berbicara

Saat kami melewati lapangan yang gelap dan sepi
Si Ibu : Iih gelap amat tuh yak, lapangan *dengan logat yg nyablak*
Kami ber-4 : *ngangguk-ngangguk sambil senyum-senyum*
Si Ibu : Iya, kalo anak perempuan lewat situ kan serem, ga ada lampunya
Kami ber-4 : *Masih senyum*
Si Ibu : Bang, saya turun di lapangan burung ya! (Kata si Ibu, pada supir angkotnya)
Si Ibu : Tau kan lapangan burung!
(Si supir angkot bingung tuh sebenernya)
Si Ibu : Iya nih lapangan ini
Supir angkot melambatkan laju mobil dan hampir memberhentikannya
Supir angkot : Di sini bu?
Si Ibu : Lapangan burung
Tau kan?
Supir angkot makin kebingungan
Si Ibu : iya, masih ke sana lagi bang. Tau ga lapangan burung? Nih saya kasih tau, sebentar lagi jg nyampe
(angkot masih berjalan, beberapa saat kemudian angkot kami sudah sampai suatu kawasan *masih jalan Agus salim, dan saat itu yang gue liat cuman lapangan, tp kayak tempat parkir dan...*)
Si Ibu : Nah di sini nih lapangan burung. Kiri bang!
Dan berhentilah si supir angkot.

Haaah, dimananya yg lapangan burung?????????? Sepengelihatan kami ber-4 itu cuman kayak lapangan parkir, dan itu juga kecil. Jelas ajah supir angkotnya bingung, apaan tuh lapangan burung, gua ajah ga tau! ANEH...

Okeh itu yg mau gue ceritain, TAPI...

Waktu sepulang gue nonton Sukarsa XI-ia5 & XI-ia7 vs XI-ia2 & XI-ia4, gue naek angkot tuh.
Eh ketemu lagi sama tuh Ibu, dan sepengelihatan gue, tuh Ibu lagi ngajak ngobrol orang disampingnya.
Si Ibu : Itu tuh, tanahnya kejual juga.
org di sampingnya : Ohh, iya *sambil senyum*
Si Ibu : Iya byk tanah kosong di sini
org di sampingnya : *masih senyum*

Dan akhirnya Si Ibu turun di lapangan burung yang waktu itu. Hhaha, lapangan burung (tempat parkir). Tau ga? Orang di sampingnya itu berkata, setelah si Ibu turun : Ibu, ibu *sambil ketawa-ketawa kecil*

Nah, jd emang bener kan Si Ibu itu aneh. Bukan cuma gue yang nilai.
Hhaha, lapangan burung