
Judul Buku : Dan Hujan Pun Berhenti...
Penulis : Farida Susanty
Penerbit : Grasindo
Cetakan : I, 2007
Tebal : 324 halaman
Penulis : Farida Susanty
Penerbit : Grasindo
Cetakan : I, 2007
Tebal : 324 halaman
"Hei! Kenapa menggantungkan itu?"
"Biar hujan nggak turun."
"Memangnya kenapa kalau turun?"
"Aku akan keburu mati sebelum aku bunuh diri."
"Kamu mau bunuh diri?"
"Ya, asal nggak hujan."
"..."
Itulah line pembuka yang mengisi halaman pertama buku ini. Line penting yang berpengaruh besar terhadap takdir tokoh-tokohnya, yang tentu saja berkaitan dengan hujan.Adalah Leo, seorang anak SMA yang baru saja dipukuli, yang tiba-tiba saja melihat seorang gadis yang sedang menggantungkan teru-teru bozu--penangkal hujan--di pohon sebelahnya. Ia, saking herannya, tanpa sadar bertanya pada gadis itu tentang apa yang sedang gadis itu lakukan. Dan gadis itu berkata ia melakukannya untuk persiapan bunuh diri!
Sebenarnya Leo ingin melupakannya; dia terlalu skeptis untuk mengurusi orang lain. Sejak ia kabur dari rumah setelah kepergian teman pertamanya, Leo sudah tidak peduli lagi pada apapun. Ia sudah permanen memakai topeng tersenyum di wajahnya, menghasilkan imej maya itu--dirinya yang cuek, enerjik, sinis, liar, dan brutal. Sesuatu yang ia pakai di permukaan agar tampak bahagia selalu, menutupi keantisosialannya yang tersembunyi dalam dirinya. Kebencian dan ketidakpercayaannya pada dunia.
Tapi Leo ternyata benar-benar tidak bisa mengabaikannya. Ia bertemu dengan gadis itu lagi di kamar mandi sekolahnya, saat gadis itu sedang mencoba bunuh diri! Leo awalnya enggan untuk menyelamatkan gadis itu.
Save this blood.
Let this be your forgiveness
SPZ
"Lo... jadi bunuh diri ya?"
Pertanyaan konyol yang lansung Leo sesali keberadaannya. Segala komponen bunuh diri sudah ada di sini. Darah, message, luka, air...
...
"Ya" Gadis itu menjawab dengan suara lemah.
"Lo megang kertas gue?"
...
"Ya, gue udah baca" ... "Forgiveness? Apa elo bikin salah?"
...
"Ya, Kesalahan kecil..." ... "darah penebus dosa"
...
"Kenapa lo nggak takut mati" ... "Kenapa kesalahan remeh itu bikin lo mati?"
...
"Bukan kesalahan remeh" ... "Ini bukan main-main..."
...
"Kalo gitu kesalahan fatal?"
"..."
"Oke, oke. Jadi lo mau mati gini aja atau gue selametin?" ujar Leo cepat-cepat, ketika tidak terdengar jawaban atas pertanyaan pertamanya. Gadis itu langsung mengangkat wajah kaget, tidak menyangka Leo orang "setidaknormal" itu. Jadi membiarkan dia mati pun Leo siap?
Tapi setelah percakapan singkat sebelum kematian gadis itu, ternyata sesuatu berjalan di luar rencananya: gadis itu ternyata mirip dengan teman pertamanya...
Disadarinya atau tidak, di sanalah semuanya berubah. Di sanalah titik balik segala masalah Leo. Yang akan mengorek kembali masa lalunya, maupun masa lalu gadis itu. Yang akan mengusik sisi-sisi mereka yang terdalam. Yang membenturkan secara brutal apa-apa yang selama ini mereka percayai. Menghasilkan hubungan "benci-terikat" yang kompleks, yang tidak bisa Leo hindari. Segala rasa sakit, rasa hangat, kasih sayang, kebencian, dan pengkhianatan, mewarnai penuh hubungan rapuh mereka. Baik antara Leo dengan gadis itu, Spiza, maupun dengan orang-orang di sekitar mereka. Yang mengubah jalan hidup mereka selamanya.
Dan di atas segalanya, hanya satu yang bisa Leo pegang,yaitu dirinya dan Spiza, adalah orang-orang yang sama-sama tidak bahagia, dan sama-sama membenci hujan.Dan hanya itulah yang bisa mereka mengerti bersama, tanpa bisa dibagi pada dunia.
Kesan-kesan setelah membaca novel ini:
Gue : Gilaaaaaaa, krenz abis. Suka banget sama karakternya Leo. Selama baca novel ini gue ga bisa berenti ngebaca ni novel sebelum selesai. Banyak kejadian yang ga di duga-duga. Farida Susanty keren bisa nyiptain karakter cowo kaya Leo^^.
Pokoknya harus baca yaaaaaaaaa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar